Pendekatan Holistik pada Perawatan Lansia : Apa Saja yang Harus Diperhatikan.
Menua adalah suatu kondisi yang pasti dialami semua manusia. Bagaimana individu lanjut usia (lansia) menjalani masa tua adalah sebuah pilihan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan perawatan yang diberikan kepada mereka. Perawatan untuk pasien lanjut usia adalah salah satu tugas paling mulia sekaligus menantang baik secara fisik dan emosional.
Penuaan itu sendiri bukan suatu penyakit melainkan proses biologis alamiah yang mengubah cara tubuh merespon kondisi stress, infeksi dan obat-obatan. Pemahaman mengenai proses fisiologis merupakan kunci tatalaksana komprehensif untuk manusia lanjut usia (manula) sehingga tercapai kualitas hidup yang baik dan mencegah komplikasi terhadap mereka.
Proses menua juga bukan semata serangkaian perubahan biologis. Proses menua merupakan proses waktu untuk berbagai kehilangan, kehilangan peran sosial akibat pension, kehilangan mata pencaharian, kehilangan teman dan keluarga. Proses menua juga dapat menimbulkan banyak ketakutan dan kecemasan; cemas akan keamanan pribadi, cemas akan tidak adanya jaminan finansial dan cemas akan ketergantungan.
Memahami Proses Penuaan Secara Biologis
Tubuh manusia mengalami penurunan kapasitas cadangan fisiologis seiring bertambahnya umur mengakibatkan batas tolerasi tubuh lansia lebih sempit dibandingkan dengan dewasa muda. Penuaan menyebabkan terjadinya perubahan sistem organ utama seperti pada sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah), tulang dan otot, saraf dan otak serta daya tahan tubuh.
Pembuluh darah akan menjadi kaku merupakan salah satu perubahan sistem organ kardiovaskuler. Hal ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras sehingga dapat bermanifestasi sebagai penyakit darah tinggi. Sarkopenia merupakan salah satu perubahan yang terjadi pada sistem tulang dan otot lansia. Pada sarkopenia akan terjadi kehilangan massa dan kekuatan otot secara progesif yang menyebabkan lansia berisiko untuk jatuh. Selain sarcopenia, lansia juga bisa mengalami osteoporosis akibat terjadinya pengeroposan tulang yang membuat lansia rentan mengalami patah tulang saat terjatuh. Volume otak lansia juga akan mengalami penyusutan. Hal ini menyebabkan lansia menjadi lebih lambat dalam merespon terhadap suatu kejadian dan terjadi penurunan dalam kecepatan memproses informasi baru. Selain organ di atas, sistem imunitas (kekebalan tubuh) mengalami keterlambatan respon kekebalan tubuh. Lansia mungkin tidak mengalami demam tinggi saat terkena infeksi parah (seperti pneumonia atau infeksi saluran kemih, melainkan menunjukkan gejala kebingungan mendadak, penurunan kesadaran atau rasa lemas yang ekstrim.
Penuaan Normal vs. Kondisi Patologis (Penyakit)
Untuk membantu Anda membedakan mana yang wajar dan mana yang memerlukan intervensi medis, perhatikan tabel berikut:
|
Kategori |
Perubahan Penuaan Normal |
|
Tanda Peringatan (Patologis/Penyakit) |
|
Daya Ingat |
Lupa menaruh kunci, namun ingat kembali nanti. |
|
Lupa jalan pulang ke rutmah, tidak kenal anggota keluarga dekat. |
|
Pencernaan |
Nafsu makan sedikit menurun, metabolisme melambat. |
|
Penurunan berat badan drastis tanpa sebab yang jelas, adanya kesulitan menelan |
|
Mobilitas |
Gerakan lebih lambat, sendi terasa agak kaku di pagi hari. |
|
Sering jatuh, nyeri sendi hebat yang mengganggu tidur, kelumpuhan. |
|
Tidur |
Waktu tidur malam lebih singkat, sering terbangun. |
|
Tidur terganggu karena sesak nafas, meracau dan gelisah pada malam hari, mengantuk berat di siang hari. |
Pemahaman mengenai proses menua serta perubahan-perubahan yang terjadi akan sangat mempengaruhi cara pandang kita bila menghadapi seorang lanjut usia yang sakit dan pada akhirnya mempengaruhi bagaimana kita memberikan penatalaksanaan terbaik buat mereka. Beberapa permasalahan utama yang terjadi pada lansia dalam pandangan medis dikenal dengan nama sindrom geriatri (the geriatric giants). Sindrom geriatri adalah sekurmpulan gejala kronis yang terjadi bersamaan, saling berkaitan dan mengganggu kemandirian lansia sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidupnya.
Berikut adalah beberapa yang paling umum dan cara memahaminya:
1. Imobilitas (Kesulitan Bergerak)
Lansia sering kali menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur atau kursi. Kondisi ini tidak selalu disebabkan malas, melainkan karena kelemahan otot, nyeri sendi (osteoarthritis), atau penyakit saraf. Akibat dari gangguan bergerak ini lansia akan mengalami kekakuan sendi, timbul luka di bagian tubuh yang tertekan akibat berbaring terlalu lama (ulkus dekubitus) dan pengeroposan tulang.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi gangguan gerak ini dengan melakukan terapi fisik dan latihan jasmani secara teratur. Pada lansia yang mengalami tirah baring total perubahan posisi secara teratur dan latihan di tempat tidur dapat dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya kelemahan dan kontraktur otot serta sendi.
2. Instabilitas dan Risiko Jatuh
Jatuh adalah penyebab utama kecacatan dan kematian akibat cedera pada lansia. Patah tulang panggul (hip fracture) pasca jatuh sering kali menjadi awal dari kemunduran kesehatan yang drastis. Penyebab dari instabilitas ini dapat akibat gangguan penglihatan (katarak), neuropati diabetik (hilang rasa pada kaki) dan hipotensi ortostatik (tekanan darah turun tiba-tiba saat berdiri sehingga menimbulkan rasa pusing).
Upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah kondisi tersebut seperti menyingkirkan benda berserakan di lantai termasuk karpet atau lantai licin, pastikan pencahayaan terang, gunakan alas kaki anti-selip, dan konsultasikan dengan dokter jika lansia sering mengeluh pusing setelah minum obat tertentu. Pasang pegangan yang kokoh di samping kloset dan area mandi juga merupakan upaya mencegah jatuh. Dorong lansia untuk tetap bergerak seperti jalan kaki pagi, peregangan di kursi atau senam lansia ringan untuk membantu menjaga massa otot.
3. Inkontinensia (Ngompol)
Inkontinensia urin (mengompol) merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai pada lansia terutama wanita. Inkontinensia merupakan ketidakmampuan mengontrol atau menahan buang air kecil atau besar. Masalah ini seringkali tidak dilaporkan oleh lansia kepada keluarganya karena merasa masalah yang memalukan. Berbagai komplikasi dapat menyertai kondisi ini seperti infeksi saluran kemih, lecet pada kulit, gangguan tidur, problem psikososial mudah marah hingga depresi dan isolasi sosial (tidak mau keluar rumah karena takut mengompol).
Strategi untuk mengatasi kondisi di atas bisa berupa latihan otot dasar panggul, bladder training dengan tujuan untuk memperpanjang interval berkemih yang normal dimana lansia diinstruksikan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya interval berkemih diperpanjang secara bertahap sampai pasien ingin berkemih setiap 2-3 jam. Habit training memerlukan penjadwalan waktu berkemih dimana diupayakan agar jadwal berkemih sesuai dengan pola berkemih lansia sendiri. Teknik rehabilitasi medik juga dapat membantu kondisi ini.
4. Gangguan Intelektual (Demensia)
Demensia adalah gangguan fungsi intelektual dan memori didapat yang disebabkan oleh penyakit otak, yang tidak berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Pikun bukanlah bagian normal dari penuaan. Penurunan daya ingat yang mengganggu aktivitas sehari-hari adalah tanda dari demensia (seperti Alzheimer). Gejala dapat berupa lupa jalan pulang, menanyakan hal yang sama berulang kali, mudah marah, tidak mau mandi, berhalusinasi merasa ada orang yang mencuri barangnya hingga tidak mengenali anggota keluarga. Deteksi dini terhadap kondisi penurunan fungsi kognitif penting untuk mempertahankan supaya lansia tidak jatuh dalam kondisi demensia.
Dalam mengatasi kondisi demensia penting untuk mengobati penyebab demensia yang dapat dikoreksi dan menyediakan situasi nyaman dan mendukung bagi pasien dan caregivernya. Terapi untuk demensia saat ini bersifat simptomatik, artinya mengobati gejala yang dianggap bermasalah. Pendekatan yang dapat dilakukan oleh care giver (pendamping) seperti mencari penyebab fisik. Sebagai contoh lansia demensia umumnya tidak bisa mengungkapkan rasa sakit sehingga seringkali keluhan muncul dalam kondisi perubahan tingkah laku agresif yang bisa disebabkan kondisi sederhana seperti sakit gigi, infeksi saluran kemih, konstipasi atau popok yang basah. Selain mencari penyebab fisik, lansia juga dberikan terapi validasi bukan koreksi. Membantah halusinasi atau mengoreksi ingatan mereka hanya akan memicu kepanikan. Masuklah ke dalam realitas mereka. Jika mereka mencari ibunya (yang sudah meninggal) katakan “ Ibu pasti sangat merindukannya, mari kita lihat foto-foto lama,” daripada mengatakan ,” Ibu Anda sudah meninggal 30 tahun lalu!”.
Kegiatan rutin yang konsisten merupakan pendekatan lain untuk lansia demensia. Otak yang mengalami demensia menyukai hal yang bisa diprediksi. Buat jadwal bangun, makan, dan tidur yang sama setiap harinya. Lansia demensia juga diberikan stimulasi kognitif dengan melibatkan mereka dalam aktivitas sederhana seperti melipat baju, menyortir sayuran, bermain puzzle sederhana atau mendengarkan lagu kenangan masa muda mereka.
5. Polifarmasi atau Iatrogenesis
Iatrogenesis didefinisikan sebagai terjadinya efek negatif yang disebabkan oleh prosedur medis. Umumnya terkait dengan polifarmasi (penggunaan 5 atau lebih jenis obat secara bersamaan). Risiko akibat interaksi obat akan menyebabkan efek berbahaya pada lansia disebabkan fungsi hati dan ginjal lansia sudah menurun. Cara mencegah terjadinya kondisi iatrogenik adalah melakukan tinjauan obat setiap 6 bulan dengan dokter dan membawa semua obat, suplemen, dan herbal yang dikonsumsi saat control ke dokter. Jangan memberikan obat bebas atau herbal tanpa persetujuan dokter. Menggunakan kotak obat harian berdasarkan hari dan waktu (pagi, siang dan malam) untuk mencegah lupa minum atau minum obat dosis ganda. Bila setelah minum obat baru lansia tampak sangat mengantuk, bingung atau sempoyongan, segera hubungi dokter.
6. Malnutrisi (Gangguan Gizi)
Malnutrisi atau gangguan gizi merupakan masalah yang sering ditemui pada lansia. Lansia sering kehilangan nafsu makan karena penurunan fungsi pengecapan, masalah gigi palsu, atau depresi. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko malnutrisi pada lansia seperti menyesuaikan tekstur makanan dengan kemampuan mengunyah dan menelan. Jika sering tersedak, gunakan makanan lunak atau cincang karena tersedak pada lansia bisa menyebabkan pneumonia (radang paru). Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering karena sistem pencernaan lansia lebih lambat. Lansia juga sering kehilangan rasa haus, penting untuk menjaga mereka tetap terhidrasi dengan baik sehingga lansia harus disediakan botol air minum sesuai kebutuhan mereka dan dijadwalkan waktu minum, jangan menunggu mereka meminta minum.
Pendekatan Holistik Perawatan Lansia
Tatalaksana pasien lansia membutuhkan suatu pendekatan paripurna yang mencakup aspek-aspek penting terkait kondisi yang sering terjadi pada lansia. Pendekatan holistik secara sederhana berarti melihat lansia sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya sekedar manusia dengan sekumpulan penyakit atau gejala medis. Kita tidak lagi hanya bertanya, "Apa penyakitnya?" tetapi beralih pada pertanyaan yang lebih luas: "Bagaimana kondisi fisiknya, perasaannya, ingatannya, kondisi rumahnya, hingga siapa yang menemaninya sehari-hari?"
Pendekatan paripurna pasien lansia dalam dunia kedokteran dikenal dengan nama Comprehensive Geriatric Assessment (CGA). Pendekatan Comprehensive Geriatric Assessment ini membagi enam pilar atau domain utama yang harus dievaluasi secara berkala. Enam pilar tersebut meliputi aspek fisik dan medis (kesehatan tubuh), aspek psikologis dan kognitif (pikiran dan perasaan), aspek fungsional (kemandirian/aktivitas sehari-hari), aspek sosial (hubungan personal dan dukungan lingkungan), aspek lingkungan atau keamanan tempat tinggal serta aspek spiritual dan harapan masa depan.
Pendekatan holistik pada geriatri menekankan bahwa lansia berhak mendapatkan kualitas hidup yang baik hingga akhir usia mereka. Dengan menyeimbangkan perawatan fisik, kesehatan mental, dukungan sosial, lingkungan yang aman, dan kedamaian spiritual, kita tidak hanya memperpanjang usia hidup mereka, tetapi juga menambahkan kehidupan dan makna pada tahun-tahun yang mereka jalani.
Pendekatan Holistik Lansia
|
Pilar / Domain |
Fokus Utama yang Diperhatikan |
Solusi / Tindakan Praktis |
|
Fisik & Medis |
Penyakit kronis, obat-obatan, gizi, risiko jatuh. |
Review obat ke dokter rutin, berikan gizi seimbang, obati nyeri. |
|
Psikologis |
Memori (pikun), stres, depresi, kebingungan |
Deteksi dini demensia, ajak ngobrol, ciptakan suasana gembira |
|
Fungsional |
Kemandirian (mandi, makan, berjalan). |
Siapkan alat bantu jalan, dorong lansia tetap aktif bergerak. |
|
Sosial |
Kesepian, finansial, kondisi pendamping atau pengasuh (caregiver). |
Libatkan dalam acara keluarga, perhatikan kelelahan pengasuh. |
|
Lingkungan |
Risiko jatuh di rumah, keamanan kamar mandi |
Pasang pegangan di toilet, pastikan lantai tidak licin & lampu terang. |
|
Spiritual |
Ibadah, kedamaian hati, harapan akhir hayat. |
Fasilitasi kegiatan keagamaan, diskusikan harapan masa depan |
Peran Vital Keluarga dan Pengasuh (Caregiver)
Keluarga dan pengasuh (caregiver) dalam pendekatan holistik memegang peranan penting dalam perawatan lansia. Keluarga tidak bisa menyerahkan semua tanggung jawab kepada dokter. Dalam menghadapi lansia, keluarga dan pengasuh harus bisa memvalidasi perasaan lansia dengan cara tidak membantah lansia yang sedang tidak merasa berguna tetapi memberikan perhatian dan mendengarkan serta memberikan pemahaman kepada mereka. Keluarga dan pengasuh juga harus menghindari mengambil alih semuanya. Jika lansia masih bisa mengancingkan baju sendiri meski lambat, sebaiknya biarkan mereka melakukannya. Mengambil alih semua tugas justru membuat fungsi fisik dan otak lansia cepat menurun.
Pendekatan holistik tidak akan berjalan jika orang yang merawat lansia mengalami kelelahan fisik dan mental (burnout). Merawat lansia merupakan tugas jangka panjang dan membutuhkan ketahanan psikologis yang tinggi. Caregiver burnout dapat muncul sebagai dampak dari beban peran yang berat dan berkelanjutan. Faktor pemicu utama meliputi tuntutan multitasking antara perawatan, pekerjaan, dan urusan keluarga; keterbatasan waktu pribadi; beban emosional akibat menyaksikan penderitaan orang yang dirawat; menurunnya kapasitas mengelola perhatian dan kasih sayang; kesulitan menetapkan harapan yang realistis; serta perasaan kesepian akibat minimnya dukungan anggota keluarga lain. Kondisi ini berpotensi memunculkan frustrasi, kemarahan, kecemasan, gangguan tidur, penarikan sosial, kelelahan ekstrem, hingga masalah kesehatan fisik dan mental. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah caregiver burnout yaitu meluangkan waktu untuk diri sendiri walaupun hanya sebentar, membagi tanggungjawab merawat dengan anggota keluarga lain ataupun layanan caregiver professional, menjaga pola makan dan tidur, bergabung dengan komunitas caregiver, bila caregiver mudah marah, terus menerus sedih, sulit tidur atau kehilangan semangat jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog.
Penutup
Menua adalah kepastian namun bagaimana kita menjalani masa tua adalah sebuah pilihan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan tata laksana yang kita terima. Penatalaksanaan geriatri secara holistik bukanlah mencari kesempurnaan atau keabadian, melainkan mengupayakan kualitas hidup terbaik agar lansia dapat menjalani sisa hari-harinya dengan nyaman, bahagia, dan bermartabat.
Referensi
📢 Wujudkan Masa Tua Bahaya dan Sehat Bersama MyCharitas
Memastikan lansia mendapatkan perawatan geriatri yang komprehensif kini semakin mudah. Aplikasi MyCharitas siap membantu keluarga Anda dalam memberikan pendampingan medis terbaik:
-
Konsultasi Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD) & Geriatri: Jadwalkan kontrol rutin dan pemantauan obat (review polifarmasi) bersama dr. Yulianty Saulina Fransisca, Sp.PD dan tim dokter spesialis di Charitas Hospital Arga Makmur.
-
Layanan Penunjang Medis & Fisioterapi: Lakukan reservasi pemeriksaan laboratorium, radiologi, hingga fisioterapi/rehabilitasi medis untuk menjaga mobilitas dan kekuatan otot lansia secara praktis.
-
Pendampingan Kesehatan Mental & Caregiver: Akses layanan konsultasi psikologi untuk membantu lansia mengatasi kecemasan atau membantu caregiver mengelola stres.
"Menua adalah kepastian, namun bahagia dan bermartabat di masa tua adalah pilihan. Unduh dan daftar aplikasi MyCharitas sekarang untuk memberikan perawatan terbaik bagi orang tua tercinta."
Kembali